Sebanyak 27 pondok pesantren menjadi sasaran Dinas Kesehatan Padang Pariaman melakukan sosialisasi pencegahan penyebaran virus Covid-19. Proses belajar di pondok pesantren rentan terhadap penularan Covid-19 jika tidak dilakukan prosedur kesehatan.
Hal itu dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Padang Pariaman Yutiardy Rivai, Rabu (22/7/2020) di Pondok Pesantren Madrasatul Ulum Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman. Dikatakan Yutiardi, kegiatan ini merupakan masukan dan hasil dari pertemuan dengan pimpinan pondok pesantren di Padang Pariaman beberapa waktu lalu.
“Target kita bagaimana pesantren di Padang Pariaman terbesar dari penularan Covid-19. Jangan sampai di pesantren ditemukan kasus Covid-19. Langkah yang tepat adalah melakukan sosialisasi bagaimana menghindari atau mencegah penularan Covid-19 ini,” kata Yutiardy yang didampingi Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Padang Pariaman Nurhayati Kepala Puskesmas Sungai Sariak dr. Fatmawati.
Tujuan Dinas Kesehatan mendatangi pesantren antara lain melihat apakah santri dan guru sudah berperilaku sesuai standar kesehatan untuk pencegahan Covid-10. Santri diminta memakai masker dan jangan dipindahkan atau dipinjamkan ke teman yang lain. Peralatan makanan santri jangan digabung satu sama lain, juga tak boleh dipinjamkan ke yang lain. Sedangkan faktor kebersihan juga harus mendapat perhatian, seperti peralatan mandi santri jangan dipinjam ke yang lain, tutur Yutiardy.
Yutiardi menambahkan, pengasuh dan santri (pakiah) harus memakai masker baik dalam belajar maupun di luar waktu belajar. “Jangan ada anggapan, kenapa banyak orang di pasar atau di luar tidak memakai masker, kita terbawa pula tak memakai masker. Selamatkan diri sendiri dengan memakai masker, biarkan saja orang lain itu tidak memakai masker. Yang penting kita pakai masker,” tegas Yutiardy dihadapan santri dan guru pesantren Madrasatul Ulum.
Selain itu, kata Yutiardy, biasakan cuci tangan, jaga jarak minimal 1 meter. Dalam suasana belajar pun jaga jarak, jangan berkerumun. Semuanya itu dilakukan agar bisa terhindar dari penularan virus Covid-19. Jika nanti ada saja satu orang yang terkena, maka semuanya harus dites swab dan pesantren harus ditutup selama 2 minggu. Jika ini terjadi, yang rugikan pastilah santri dan pesantren. Makanya guru diminta mengawasi santri untuk mematuhinya.
Ketua Yayasan Pesantren Madrasatul Ulum Jon Hendri Tuanku Bandaro menyambut baik sosialisasi yang dilakukan Dinas Kesehatan, termasuk Puskesmas Sungai Sarik. “Informasi ini sangat penting bagi kami di pesantren. Para santri pun lebih memahami bagaimana selalu menjaga kesehatan dan mencegah tertular virus Covid-19 yang menghantui dunia saat ini,” kata Jon Hendri.
Jon Hendri menyebutkan, santri Madrasatul Ulum mengasuh 86 santri (pakiah) dengan 15 orang guru. Fasilitas yang tersedia di pesantren ini antara lain 10 ruang belajar, 2 ruang belajar terbuka, mushalla, berdiri di atas tanah seluas 3 hektar. “Tahun 2019 lalu mendapat bantuan Balai Latihan Kerja (BLK) otomotif roda dua dari Kementerian Ketenagakerjaan RI,” kata Jon Hendri menambahkan.
Usai dari pesantren Madrasatul Ulum, Kepala Dinas Kesehatan Padang Pariaman Yutiardy Rivai dan rombongan melanjutkan kunjungan sosialisasi ke Pesantren Nurul Yaqin Ambung Kapur. Rombongan diterima Kepala Madrasah Tsanawiyah Pesantren Nurul Yaqin Ambung Kapur Bulkaini Tuanku Sutan Majolelo.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Padang Pariaman Nurhayati menyebutkan, ditargetkan 27 pesantren di Padang Pariaman dikunjungi untuk dilakukan sosialisasi. Saat ini sudah 10 pesantren yang dikunjungi. Sisanya, akan dikunjungi di hari berikutnya. Sehingga pesantren tersebut mendapatkan informasi yang benar terhadap pencegahan Covid-19. (at)











Komentar