oleh

Tangkelek “Terancam Punah”, Tim Kukerta UNRI Dorong Promosi-Penjualan Online

Parik Putuih, siberindo.co — Tim Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) “balek kampung” Universitas Riau (UNRI) di Nagari Ampang Gadang, kecamatan IV Angkek beri perhatian khusus pada satu-satunya pengrajin “tangkelek” sandal khas ranah Minang yang kini keberadaannya hampir punah ditelan masa. Bahkan, secara khusus tim Kukerta UNRI, sengaja melakukan kajian untuk mendorong kembali eksisnya tangkelek dalam keseharian masyarakata, bahkan pada masanya, tangkelek pernah berjaya dengan produksi massal oleh ratusan pengrajin. Saat ini, satu-satunya pengrajin tangkelek yang bertahan hanya milik Dedian,(48) di Jorong Parik Putuih, Nagari Ampang Gadang, Kecamatan IV Angkek, yang kondisinya justru memprihatinkan, karena kurangnya penjualan. Untuk membantu kembali hadirnya tangkelek sebagai bagian dari keseharian masyarakat, tim Kukerta UNRI, sengaja memberi dorongan, dengan menyampaikan sosialisasi tekhnis pemasaran tangkelek, termasuk mengenalkan promosi secara online.
Menurut Yudha Pratama, Ketua Tim Kukerta UNRI di Nagari Ampang Gadang, pihaknya mengaku prihatin dengan mulai ditinggalkannya tangkelek oleh masyarakat, padahal sebetulnya hingga kini, minat dan kebutuhan masyarakat akan tangkelek justru masih tinggi dan menjanjikan.
Baca Juga  Peringkat II Situs Sejarah Nasional, Museum Buya Hamka Raih API Award 2021
Yudha Pratama menyebutkan, pihaknya bersama tim Kukerta UNRI berupaya membantu melestarikan kerajinan tangkelek itu, salah satunya dengan mendorong promosi untuk penjualan, termasuk menyiapkan media khusus untuk penjualan dan promosi secara online. Disebutkan, tangkelek yang merupakan sendal khas Minang dan sempat populer pada dekade 70 sampai 80-an. Namun seiring perkembangan zaman, eksistensi sandal “berisik” ini makin berkurang, tak banyak lagi pengrajinnya, ditambah lagi dengan masuknya sendal jepit dan bahan baku yang berkualitas untuk pembuatan tangkelek kian tergerus. Saat ini hanya Dedian (48), yang masih bertahan memproduksi sandal unik ini, tidak hanya untuk mempertahankan tradisi, tapi juga untuk mempertahankan usaha warisan leluhurnya yang sudah tiga generasi mengembangkan usaha tangkelek.
Baca Juga  Jumat Bersih di Tiku, Tumpukan Sampah Dibersihkan Lagi
Dedian, mengaku, dulu di wilayah Jorong Parik Putuih, hampir di setiap sudut, bahkan rumah-rumah penduduk mengembangkan usaha kerajinan tangkek, namun seiring perkembangan zaman, dan mungculnya banyak jenis sandal dengan bahan baku beragam itu, membuat tangkelek tersingkir. “Umumnya, dulu disini banyak pengrajin tangkelek, tapi sudah beralih profesi, sekarang tinggal saya sendiri,” ungkap Dedian. Dedian sendiri justru berharap, tangkelek bisa kembali berjaya, sebagai bagian dari kebutuhan harian masyarakat seperti dulu, sehingga dia berkomitmen untuk terus bertahan, bahkan tidak sungkan-sungkan membagi ilmunya membuat tangkelek pada warga yang ingin belajar, sehingga sandal tradisi Minang itu ada yang mewarisi dan tak pupus dimakan zaman. Proses pembuatan tangkelek produksi Dedian sendiri, tidak mengalami perubahan, mulai dari membelah kayu, lalu memotongnya menjadi bentuk persegi panjang dengan ukuran panjang 25 cm, lebar 10 cm dan ketebalan 3 cm, Alat yang digunakan juga manual seperti parang, gergaji dan ketam.
Baca Juga  Profil Agus Syabarrudin, Mantan Dirut Bank Banten Dengan Segudang Prestasi
Satu pasang tangkelek biasanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit. Dedian biasanya membuat perkodi, satu kodi biasanya memakan waktu setengah hari dengan sandal yang sudah siap pakai. Untuk pemasaran, Dedian melakukan semuanya sendiri. Mulai dari membuat, mengemas, hingga pengiriman. Ia tidak punya karyawan ataupun orang yang bekerja tetap dengannya. “Namun tidak adanya karyawan menjadi kesulitan bagi Dedian untuk melakukan promosi secara online, apabila kemungkinan mendapat pesanan dalam jumlah yang banyak, kita akan mencoba membantu melalui promosi dan proses penjualan secara online, ” jelas Yudha Pratama mengulas. HARMEN/kaba12.com

Komentar

News Feed