oleh

Kebahagiaan Dalam Perspektif Psikologi dan Islam

Oleh: Eliza Sutri Utami, M.Psi., Psikolog (Kaprodi Psikologi Islam IAI Sumbar)

Kebahagiaan adalah hal yang didambakan oleh semua orang. Hampir semua orang melakukan cara-cara untuk memperoleh bahagia.Dengan adanya dorongan tersebut, tidak sedikit pula media yang menawarkan cara untuk bahagia, mulai dari acara di televisi, tempat-tempat hiburan, tempat rekreasi bahkan ada banyak seminar-seminar “yang katanya” bisa memperoleh bahagia.  Hal ini sebenarnya tidak salah, karena pada dasarnya kebahagiaan adalah kebutuhan setiap manusia. Namun, sebenarnya kita perlu tahu apa sebenarnya indicator bahagia. Karena tidak semua orang akan menjeneralisasikan kebahagiaan dengan satu alasan saja. Ada yang merasa bahagia hanya ketika jalan-jalan ke suatu tempat, ada pula yang bahagia ketika memperoleh barang kesukaannya atau bahkan ada yang bahagia ketika hanya dapat menonton film favoritnya. Jadi, apa sebenarnya definisi dan indikator bahagia ?

Seorang tokoh psikologi, Seligman mengemukakan bahwa kebahagiaan adalah sebuah kondisi psikologis yang positif yang meliputi emosi positif tentang kepuasan terhadap masa lalu, kebahagiaan pada masa sekarang dan optimis terhadap masa yang akan datang. Kondisi ini sebenarnya dapat diamati dan dapat diukur. Orang yang bahagia dapat dilihat dari kesenangan dan kebanggaran yang ia miliki dari kejadian di masa lalunya, seberapa besar ia merasa cukup dan tentram. Kemudian kebahagiaan juga dapat dilihat dari keadaan emosinya pada saat ini dari seberapa banyak kesenangan dan kegembiraan yang dirasakan pada saat ini. Selanjutnya emosi positif yang menyangkut masa depan yaitu dapat dilihat dari perasaan optimis dan percaya diri dalam memandang masa depan, memiliki harapan, cita-cita dan gairah untuk mewujudkan harapan. Senada dengan hal ini, tokoh lainnya Dinner dan Lucas juga mengemukakan bahwa kebahagiaan dapat dilihat dari dua hal yaitu memiliki afeksi dan emosi serta kepuasan hidup. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sebenarnya kebahagiaan adalah berupa perasaan positif pada diri seseorang.

Mengacu pada teori hierarki kebutuhan miliknya Abraham Maslow, ada beberapa kebutuhan yang harus dipenuhi manusia untuk mencapai bahagia. Adapun beberapa kebutuhan tersebut adalah kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri. Menurut Abraham Maslow, orang -orang yang telah terpenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya tersebut adalah orang yang telah mencapai kepuaasan batin, memiliki kepercayaan dan memperoleh kebahagiaan. Teori tersebut merefleksikan bahwa sebenarnya manusia selalu mencari jalan untuk bahagia melalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya.

Baca Juga  Ber-PMII Dari Ngaliyan

Di dalam ilmu psikologi, kebahagiaan itu sendirimerupakan bentuk dari emosi positif. Kebahagian yang dirasakan oleh seseorangmerupakan dorongan yang dapat memberikan energi berlipat untuk melakukan aktivitas atau menghasilkan sesuatu. Sehingga tidak salah jika kita pernah mendengar bahwa orang yang sukses adalah orang yang bahagia.Sesuai dengan pernyataan Shawn Achor, penulis The Happiness Advantage (2010) mengungkapkan di dalam bukunya tersebut bahwa “kebahagianlah yang menyebabkan kesuksesan dan bukanlah sukses yang menyebabkan bahagia”. Mengapa demikian? Karena orang yang bahagia akan memiliki sudut pandang yang positif dan optimis untuk mencapai tujuannya. Selain itu, orang yang bahagia cenderung menghasillkan kinerja terbaik dan memperoleh pencapaian besar. Adapun emosi yang dirasakan secara psikologis oleh orang yang bahagia adalah tumbuhnya kenyamanan, ketentraman dan kedaiaman dalam jiwa.

Dalam perspektif Islam, kebahagiaan juga dibahas oleh seorang tokoh yang Bernama Imam al-Ghazali. Beliau mengemukakan kebahagiaan dalam kitabnya Kimiya al-Sa’adah, bahwa puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma’arifatullah, telah mengenal Allah. Di dalam kitabnya ia menyatakan;

Sesungguhnya kenikmatan dan kebahagiaan bagi manusia itu adalah ma’rifatullah. Ketahuilah Bahagia tiap-tiap sesuatu adalah bila kita rasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya, karena rasa itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia”.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita ketahui bahwa pada hakikatnya kebahagiaan dalam perspektif islam lebih mengarahkan pada adanya keterlibatan Tuhan. Dalam hal ini kebahagian tersebab adanya keterhubungan emosi yang kuat dengan Tuhannya. Ia telah mengenal Tuhannya dengan baik, ia telah mencintai Tuhannya.Sehingga layaknya seseorang yang telah mengenal baik kekasihnya, segala yang diperoleh dari Tuhannya ia terima dengan segala kenikmatannya terlepas dari sesuai atau tidak sesuainya harapan dengan kenyataan. Penerimaan sepenuhnya itulah yang memberikan keridhaan, kerelaan atas apa yang diperoleh sehingga munculkan kedamaian dalam jiwa dan kebahagiaan yang paripurna. Hal ini karena ia telah mengenal Tuhannya dengan baik atau dalam Bahasa imam al-ghazali, ia telah berma’rifatullah dengan Tuhannya.

Baca Juga  Cinta Rupiah, Cinta Tanah Air

Ada banyak hal yang bisa dirasakan manfaatnya oleh orang yang bahagia. Beberapa penelitian menemukan bahwa orang yang bahagia lebih jarang sakit sehingga ia bisa menjadi lebih produktif, dapat menghasilkan banyak uang, dapat berpikir dengan logis dan solutif sehingga akan lebih bijak dalam memandang masalah. Selain itu, orang yang bahagia lebih optimis dalam menjalani hidup dan dapat menentukan tujuan hidup dengan rinci dan baik. Orang yang bahagia memiliki control emosi yang baik.

Sehingga muncullah pertanyaan utamanya yaitu, “Bagaimana sebenarnya tips sederhana untuk memperoleh bahagia?”. Untuk menjawab ini, perlu kita ketahui bahwa pada kenyataan yang sebenarnya kita jalani dalam hidup, akan selalu ada hal-hal yang tidak sesuai harapan, kekecewaan, kesedihan, patah hati dan masalah hidup lainnya yang kita alami. Tersebab dari realita yang tidak sesuai denga apa yang diharapkan tersebut, apakah kita masih berhak untuk bahagia? Jawabannya tentu saja bisa. Hanya orang-orang bijaklah yang dapat mengendalikan dirinya dari perkara kekecewaan ini. Mereka mampu mengelola rasa untuk mengurai perasaan sakit, tidak menyalahkan keadaan apalagi sampai menyalahkan tuhan. Untuk itu marilah kita bahas secara rinci tips untuk memperoleh bahagia berikut ini.

Kebahagiaan menjadi konstrak menarik saat ini dan semakin banyak diteliti.Kebahagiaan bukan merupakan sesuatu yang ingin dituju melainkan adalah suatu proses sehingga ia perlu cara-cara untuk mencapainya. Oleh karena itu penulis di sini merangkum beberapa hasil dari penelitian mengenai cara untuk meningkatkan kebahagiaan dalam hal ini ditinjau dari perspektif psikologi dan islam:

  1. Berdamai dengan diri sendiri

“Karena bahagia kita adalah tanggung jawab diri sendiri”. Kalimat tersebut menjelaskan bahwa kita punya kendali atas diri kita sendiri, apakah kita memutuskan untuk bahagia ataukah sebaliknya. Berdamai dengan diri sendiri adalah memahami apa yang ada di dalam diri dan pikiran kita, memahami keinginan kita dan menyadari kebutuhan yang sebenarnya juga berhenti membanding diri sendiri dengan orang lain. Sehingga kita mampu menjadi lebih mencintai diri sendiri. Sehingga pada akhirnya akan membuat kita menjadi lebih bahagia.

  1. Meningkatkan rasa syukur

Peneliti Dr. Robert A. Emmons dari University of California dan Dr. Mc Cullough dari University of Miami meneliti tentang dimensi dan perspektif rasa syukur. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa orang yang memiliki rasa syukur yang tinggi cenderung memiliki emosi positif yang lebih tinggi, lebih optimis dan memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi. Syukur dapat dilakukan dengan membuat jurnal syukur dengan menulis beberapa kalimat yang disyukuri setiap harinya, mengucapkan terima kasih, dan berdoa setiap hari untuk mengucapkan syukur.

  1. Memaafkan
Baca Juga  Dokter Putra Rizki Sp.KO ; Tiga Panduan Olahraga di masa Pandemi Covid-19

Memaafkan memang tidak semudah kedengarannya. Namun dengan belajar memaafkan dapat mengurangi beban rasa sakit di dalam hati sehingga menjadi lebih bahagia. Dengan memaafkan pikiran tidak menjadi terbebani terhadap apa yang membuat kita tersakiti, memaafkan dapat menghilangkan rasa dendam dan memaafkan membuat kita menjadi lebih ringan dalam menjalani hidup. Kita perlu memahami bahwa setiap manusia memiliki dosa dan kesalahannya masing-masing. Cobalah melihat dariperspektif orang yang salah, semoga kita bisa menjadi mudah memaafkan. Bukankah Tuhan kita juga dzat yang maha memaafkan. Semoga kasih sayangnya selalu dilimpatkan kepada kita.

  1. Belajar bersabar

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa innailaihi roji’un” (Q.S. Al-Baqarah: 155-156)

      Dari ayat di atas dapat kita ketahui bahwa sabar merupakan hal yang perlu dimiliki oleh setiap orang untuk menjalani liku kehidupan. Dengan sabar kita punya modal yang kuat untuk bertahan dalam derasnya arus kehidupan. Orang yang sabar akan memahami bahwa tidak selamanya perasaan itu menetap. Orang yang sedih tidak akan selamanya merasakan sedih, pun rasa bahagia juga tidak bertahan selamanya. Namun yakinlah bahwa yakinlah bahwa setelah kesulitan ada kemudahan (QS Aal-insyirah).

  1. Berolahraga

Oalahraga merupakan aktivitas yang membuat orang dapat bahagia karena pada saat olahraga, tubuh menghasilkan hormone endofrin yang akan masuk kedalam aliran darah sehingga zat kimia yang mengalir tersebut akan membuat menjadi lebih bahagia. Olahraga yang dapat dilakukan dapat berupa berjalan kaki selama 20-30 menit setiap tiga kali seminggu, bersepeda dan bisa juga dengan berenang. ***

Komentar

News Feed