oleh

Antara Palestina, Israel dan Indonesia

Oleh: Joni Indra Wandi, M.Pd (Dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah) IAI Sumbar Pariaman

Palestina Atau Israel?

Meninjau dari segi sejarah, negara Israel pada sebelum tahun 1948 negara ini tidak ada, bahkan dipeta dunia pun juga tidak pernah ada, yang ada dalam peta dunia adalah negara Palestina. Nama Israel berasal dari nama lain Nabi Ya’qub AS yang memiliki 12 anak, yang mana keturunan-keturunannya inilah disebut bangsa Israel, beginilah cara orang-orang timur tengah memberi nama suatu suku/bangsa sesuai dengan keturunannya, dalam kasus lain seperti yang kita lihat di Arab ada suku Quraisy yang berarti suku ini adalah keturunan dari Buyutnya Rasulullah SAW yang bernama Quraisy, maka keturunannya disebut suku Quraisy.Jadi Nama Irael dahulunya bukanlah nama negara melainkan nama Suku dari keturunan nabi Ya’qub AS bin Ishaq AS bin Ibrahim AS yang mendiami wilayah Palestina, dan bahkan kalau kita merujuk dari 4 Kitab suci (Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an) tak ada satupun kitab yang menyatakan Israel itu adalah sebuah Negara melainkan Suku, sedangkan nama Palestina (Filistine) adalah nama sebuah negara/wilayahberpemerintahan (kerajaan). Namun entah apa yang terjadi saat sekarang ini di dalam beberapa peta dunia, Palestina yang dihilangkan dan Israel disebut sebuah Negara, berdasarkan 4 kitab tersebutseharusnya negara Israel-lah yang dihapus dari peta dunia bukan Palestina, hal ini barulah sesuai dengan pembukaan kitab-kitab suci mereka tersebut.

Ide Apakah yang Memulai Lahirnya Negara Israel?

Bangsa Israel adalah bangsa yang seringkali meninggalkan wilayahnya hal ini terbukti bahwa pada zaman nabi Yusuf AS, bangsa Israel mengalami Paceklik dan kekeringan yang luar biasa, sedangkan nabi Yusuf AS yang dibuang saudara-saudaranya berhasil menjadi orang kepercayaan raja Mesir dan memimpin bidang Logistikserta PerbendaharaanMesir (sejenis Menteri Ekonomi sekarang ini), kerajaan Mesir sangat makmur saat itu, sehingga bangsa Yahudi berbondong-bondong hijrah ke wilayah mesir dengan dalih mengikuti nabi mereka Yusuf AS, sehingga Palestina mereka tinggalkan sampai + 400 tahun kemudian Allah mengutus nabi Musa AS untuk memulangkan mereka kembali ke Palestinaagar terbebas dari cengkraman Fir’aun melewati laut merah (QS: Al-baqarah. 50& Injil: Kel. 13:17 – 14:29). Inilah dalil bangsa Yahudi menyebut Palestina adalah negeri yang dijanjikan Tuhan untuk Bangsa Yahudi.

Pada zaman Nabi Hizqil AS bin Budzi (Yehezkiel/Surat Yeh dalam kitab Perjanjian Lama)dijelaskan juga bangsa Israel saat itu mengalami wabah penyakit menular (pandemi Tha’un) yang mematikan, maka nabi Hizaqil melarang mereka untuk keluar dari kampung halaman mereka dan melarang orang yang diluar masuk kewilayah mereka, agar tidak terjadi penularan virus, namun mereka tidak menghiraukan nabinya, dan mereka tetap melarikan diri keluar dari wilayah mereka karena takut mati, sehingga wilayah mereka kosong (Tafsir Ibnu Katsir,QS: Al-Baqarah 243).

Pada awal abad pertama masehi Romawi menduduki Judea Palestina (zaman Nabi Isa AS), dan tahun 70M  terjadi pemberontakan bangsa Yahudi terhadap Romawi,pemberontakanini mengalami kegagalan tahun 135M sehingga Romawi menghancurkan sebagian besar tempat-tempat peribadatan bangsa Yahudi dan membunuh, mengusir serta memaksa hampir semua orang Yahudi Judea mengasingkan diri ke seluruh Eropa, di Eropa mereka disebut bangsa Yahudi karena menganut agama Judaisme. Orang Romawi menamakan propinsi itu dengan Palestina Syria (Jimmy Carter:  Palestine Peace Not Apartheid “The New York Times”).

Pada zaman Khalifah Umar Bin Khattab(13-23 H/634 – 643M), Masjidil Al-Aqsha Palestina berhasil dikuasai kalifah Umar di tahun 15H/636M, hal ini banyak dari kalangan Yahudi membenci Khalifah Umar beserta orang-orang Islam dan sebagian besar dari mereka mulai meninggalkan Palestina dengan berpencar ke wilayah-wilayah lain terutama ke-Eropa hingga perang salib pertama 1099M yang mana wilayah ini dikuasai oleh Kristen. Orang-orang Kristen pun tak begitu baik terhadap Bangsa Yahudi sehingga orang Yahudi Enggan untuk kembali ke Palestina, dan pada zaman Salahuddin Al-Ayyubi 1187M terjadi peristiwa yang sama yaitu kekuasaan Jarusalem Palestina berada kembali di bawah kekuasaan Kaum Muslim selama 15 tahun dan jatuh lagi ke tangan Kristen sampai tahun 1516 Palestina kembali dikuasai Islam Turki Ottoman yang berhasil mengambil Syria, Palestina dan Mesir, Sebab inilah bangsa Yahudi banyak yang meninggalkan wilayahnyadan berpencar hingga ke wilayah Eropa karena mereka tidak senang tinggal bersamaan dengan orang-orang Muslim.

Berdasarkan kepercayaan bangsa Yahudi, Mesias (juru selamat) akan lahir dan membawa mereka kembali ke Jarusalem Palestina seperti yang dilakukan oleh Nabi Musa yang memulangkan kembali mereka ke Palestina, inilah yang membuat mereka bersemangat untuk mewujudkan “Negara Israel”. Hal yang serupa juga pernah dialami oleh umat Islam, yang mana dalam Hadist riwayat Ahmad menyatakan bahwa “Nanti akan ada umat Islam menaklukkan Konstantinopel (Pusat Kristen)yang mana pemimpinnya adalah sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan sebaik-baiknya pasukan” maka ini juga membangkitkan semangat Islam untuk mewujudkannya hingga ke zaman Muhammad Alfatih, maka berdasarkan kepercayaan-kepercayaan inilah yang membuat sebuah umat itu bangkit termasuk bangsa Yahudi yang mempercayai Mesias akan menyelamatkan mereka dan membawa mereka kembali ke tanah Jarusalem Palestina, meskipun berat dan tabu bagi mereka pada zaman itu, namun merka memiliki tekad kuat untuk mewujudkan Mesias tersebut demi terciptanya negara Israel.

Baca Juga  Filsafat dan Al-Qur’an

Ide Mendirikan Sebuah Negara

Cikal bakal lahirnya ide mendirikan negara Israel tak terlepas dari tiga peristiwa besar yaitu: Abad Pencerahan, Revolusi Perancis, dan Perang Napoleon. Ketiga hal tersebut menimbulkan dua hal yaitu:

  1. Pemisahan agama dan kehidupan publik
  2. Peperangan di Eropa semakin memantik perasaan nasionalisme.

Kedua hal tersebut mengakibatkan orang Yahudi di Eropa dipaksa untuk melupakan tradisi mereka demi mengasimilasikan dirinya dengan bangsa Eropamereka melakukan kawin campur demi keamanan mereka, (peristiwa asimilasi ini berlanjut hingga Perang Dunia I karena Bangsa Yahudi mencari keamanan dari pemburuan tentara Nazi Jerman), berkat Asimilasi orang Yahudi mulai melupakan ajarannya, dan bagi mereka Palestina sudah merupakan tempat yang buruk, terbelakang dan berbahaya karena dikuasai oleh kekaisaran Ottoman, meskipun diskriminasi masih kerap terjadi terhadap bangsa Yahudi, Eropa barat masih menjadi tempat yang lebih baik bagi bangsa Yahudi.

Namun situasi berbeda dengan di Eropa Timur, di Eropa Timur dimana nilai-nilai Liberalisme belum terasa dan diskriminasi terhadap Yahudi jauh lebih mematikan, mereka dipaksa tinggal di derah kumuh, dan tidak boleh bepergian sesuka hati mereka dan bahkan tidak berhak mendapatkan pendidikan dan sebagian besar dari mereka sampai-sampai tak bisa berbahasa lokal dan kerap menjadi target penyerangan dan pembantaian, bagi mereka Palestina merupakan pilihan yang jauh lebih baik daripada tempat asal mereka, semenjak tahun 1880 ratusan orang Yahudi di Eropa timur memilih untuk berpindah tempat tinggal ke Palestina dibawah kekaisaran Otoman, hanya saja perencanaan migrasi masal ini dilakukan tanpa perencanaan yang matang banyak pendatang ke Palestina yang meninggal karena penyakit Malaria, kelaparan atau ditangkap oleh pasukan Turki. Sepertinya, harapan mengenai kembali kekampung halaman mereka telah sirna.

Pada tahun 1891 seorang Jurnalis Yahudi bernama Theodor Herzl ditugaskan untuk meliput peristiwa politik di Perancis (Eropa barat), setelah ia berhasil meliput berbagai serangan terhadap bangsa Yahudi di Perancis, Herzl mendapatkan sebuah kesimpulan yang pahit yaitu “bangsa yahudi akan tetap dianggap sebagai pendatang dan dianak tirikan dimana pun mereka berada”, meskipun mereka telah melakukan asimilasi, menganut agama lokal, bahkan menjadi bagian angkatan bersenjata Negara itu, bagi dia bangsa Yahudi tetap akan dibenci dimana saja mereka berada.

Menurut Herzl, satu-satunya solusi adalah bahwa mereka harus mempunyai Negara, Herzl merasa bahwa Imigrasi ke Palestina saja tidaklah cukup bahkan berbahaya. Hal pertama untuk mendirikan Negara Yahudi adalah memastikan dukungan Negara besar Eropa terlebih dahulu, setelah mendapatkan perjanjian resmi untuk membentuk sebuah Negara barulah migrasi masal akan dimulai, disinilah ideology Herzl bertentangan jauh dengan “Judaisme”. Judaisme adalah kepercayaan orang Yahudi yang menantikan seorang juru selamat bernama Mesias, sedangkan Ideologi Herzl didasarkan dengan Nasionalisme Yahudi, Herzl merasa bangsa Yahudi tidak bisa menunggu terlalu lama karena bangsa Yahudi menurutnya harus mengambil alih takdir mereka dan segera membentuk Negara di Palestina, ideology Herzl inilah yang disebut “Zionisme

Pada tahun 1897 mulailah Herzl menyebarkan ideologinya, Ia mengumpulkan tokoh Yahudi di seluruh Eropadan membuat kongres zionis pertama, rencana yang ditawarkan Herzl mendapatkan dukungan dan Penolakan, bagi mereka yang mentang Zionisme, membuat sebuah Negara bagi bangsa Yahudi itu sebuah pelanggaran kitab Taurat, dimana hanya Mesiaslah yang bisa menentukan bangsa Pilihan tuhan, namun Herzl tidaklah menyerah, ia mendekati beberapa petinggi dari Jerman yang dekat dengan kekaisaran Ottoman, setelah mendapatkan dukungan, barulah ia beranjak kekaisaran Ottoman untuk meminta sepetak tanah (Wilayah Zion) di Palestina tersebut dengan menawarkan bantuan keuangan bagi kekaisaran Ottoman, namun Kaisar Ottoman yang sedang banyak mengalami pertentangan dengan Eropa, tidak ingin memberikan sejengkal tanahpun dengan Eropa, dalam hal ini untuk keduakalinya Herzl mengalami kegagalan.

Baca Juga  Aktor Anwar Fuady : Dulu Capres, Sekarang Relawan Capres: Catatan Ilham Bintang.

Namun tetap saja Herzl tidak menyerah, ia mulai mendekati Musuh-musuh Ottoman yaitu Rusia, Inggris, dan Pihak sekutu lainnya, ia kembali gagal untuk meyakinkan Rusia, tapi Herzl mendapatkan tawaran wilayah dari Inggris, wilayah tersebut adalah Uganda (Afrika), namun Herzl beserta pengikutnya menolak dengan alasan Uganda bukanlah tanah Moyang mereka. Lebih naasnya lagi, Herzl tidak pernah hidup untuk melihat impiannya tercapai, pada tanggal 3 Juli 1904 Herzl meninggal dunia.

Tahun 1914, kelompok Zionis yang sudah tersebar di manca Negara mengalami sebuah dilema, kekaisaran Otoman beserta Jerman turut berperang melawan negara-negara Sekutu, Inggris yang merupakan bagian dari Sekutu tersebutmerespon hal ini dengan mendukung Nasionalisme bangsa-bangsa Timur Tengah agar memberontak pada kekuasaan Otoman dan mendirikan negara mereka masing-masing, dan Otoman mengalami kehancuran yang menimbulkan korban + 160.000 jiwa.

Akibat peristiwa ini kelompok Zionis terbagi menjadi 2 kubu:

  1. Bagi orang Yahudi yang sudah menetap di Palestina

Bagi orang Yahudi yang menetap di Palestina, kekaisaran Otoman adalah harapan terbesar mereka dari ancaman Inggris yang mendukung bangsa-bangsa Arab, maka Otomanlah yang harus didukung.

2. Bagi orang Yahudi yang belum mempunyai wilayah (Kaum Zionis)

Para zionis dari Eropa menggap ancaman terbesar berasal dari Otoman, maka dari itu Inggrislah yang harus didukung.

Chaim Weizmann seorang ilmuan yahudi yang mendukung Inggris yang sedang mengalami peperangan dengan Kekaisaran Otoman, selama perang berkecamuk ia melobi menteri luar negeri Inggris Lord Arthur Balfour bahwa Ia beserta Ilmuan-ilmuan Yahudi lainnya bersedia mendukung Inggris untuk mengalahkan Otoman dengan catatan Ilmuan yahudi bersedia menciptakan Senjata dan Obat-obatan untuk Sekutu Inggris dan jika Inggris menang, maka Inggris memberikan sepetak tanah di Palestina untuk bangsa Yahudi.

Empat tahun kemudian (1918) Inggris berhasil mengalahkan Otoman, dan Inggris diberi mandat oleh LBB (Liga Bangsa-Bangsa) untuk berkuasa di atas seluruh tanah Palestina, dan dengan kekuasaan ini Inggris mulai mengambil kebijakan yang seakan mengingkari janjinya dengan bangsa Yahudi, tahun 1921 Inggris membentuk kerajaan Trans Jordan dan kerajaan ini bukan Untuk Yahudi (inilah balasan dari Lorld Balfour), tanpa disangka pengingkaran janji ini menjadi pembangkit nasionalisme ekstrim bangsa Arab di Palestina yang mengkehendaki kemerdekaan serupa dan juga di sisi Yahudi yang semakin tidak mempercayai Inggris dan membenci bangsa Arab. Konflik antara bangsa Arab dan Yahudi di Palestina semakin meningkat demi hari-hari dimana kedua belah pihak saling menyerang.Dengan meningkatnya kekerasan ini, seorang ekstrimis bernama Vladimir “ze’ev” Jabotinsky membentuk sebuah milisi Yahudi bernama Haganah.

Jabotinsky percaya bahwa Negara Yahudi tidak boleh menerima bangsa Arab, karena sudah banyak Negara Arab di Timur Tengah dan dia juga percaya bahwa bangsa Yahudi juga tidak boleh mempercayai bangsa mana pun termasuk Inggris, dengan meningkatnya kedatangan Yahudi dari Eropa ke Palestina, kekerasan pun turut bertambah. Tahun 1939 Inggris mulai kewalahan akan konflik antara Arab dan Yahudi di Palestina, dan Inggris memutuskan untuk menghentikan Migrasi Yahudi ke Palestina, ini merupakan tahun yang paling ditakuti dan bersejarah bagi bangsa Yahudi karena di tahun ini pula Jerman yang dulunya kolega bangsa Yahudi, berbalik arah semenjak Jerman dikuasai partai Nazi malah memusuhi Yahudi dan berambisi memburu serta memusnahkan seluruh orang Yahudi di dunia.

Pandangan ekstrim dari Vladimir “ze’ev” Jabotinsky pun mendapat banyak dukungan dari orang-orang yahudi bahkan mereka yang awalnya ingin hidup berdampingan dengan bangsa Arab di Palestina turut terkontaminasi dengan kebencian ini, kelompok teror Yahudi pun mulai terbentuk seperti Irgun dan Lehi untuk menyerang bahkan melakukan pembunuhan terhadap perwira-perwira Inggris yang dianggap penghambat migrasi Yahudi ke Palestina dan mereka juga menebar teror bagi bangsa Arab.

Ekstrimisme dari kedua kelompok ini membuat bahkan dari beberapa tokoh Yahudi seperti David Ben Gurion mengecam tindakan mereka dan mendorong Inggris serta seluruh dunia untuk segera mengesahkan pembentukan Negara Yahudi demi menghentikan segala kekacauan di Palestina ini.

Dengan sering terjadinya kekacauan di Palestina ini, Inggris berlepas tangan dan menyerahkan Palestina ke tangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menentukan masa depan Palestina, Palestina akan menjadi tiga bagian, yaitu (1) untuk bangsa Yahudi, (2) untuk bangsa Arab dan (3) Jarusalam untuk PBB pada tanggal 29 November 1947, pemilihan suara dimulai dan hasilnya 33 negara menyetujui, 13 negara menolak, 10 negara abstain, dan 1 negara tidak hadir. Pada akhirnya Impian dari Zionisme Negara Yahudi tercapai, dunia telah mengakui keberadaan Negara Israel meski belum semuanya.

Baca Juga  International Minangkabau Literacy Festival-2: Sebuah Perjalanan Inspirasi dan Kebersamaan

Tanggal 14 Mei 1948 David Ben Gurion Memproklamasikan Kemerdekaan Israel di Tel Aviv, dan dia kemudian menjadi Perdana Menteri Israel Pertama.Sehari berikutnya 15 Mei 1948 Inggris mulai meninggalkan Israel dan Palestina, beberapa jam setelahnya negara-negara Arab seperti Mesir, Suriah, Iraq, dan Jordan menyerang Israel dan perang pun dimulai.Nasionalisme Bangsa Yahudi sangatlah kuat di kala itu, meskipun wilayah mereka masih kecil yaitu hanya di Dataran Tinggi wilayah Zion di Palestina, namun mereka berhasil mempertahankan Wilayah tersebut dan mengalahkan negara-negara Arab yang mengeroyok mereka.Tahun 1949 setelah menandatangani perjanjian dengan beberapa negara Arab, Perang Israel – Arab pertama berakhir.Israel menamai Perang ini “Perang Kemerdekaan” dan Palestina menamai perang ini “Al Nakba” atau Bencana.

Indonesia atau Palestina?

Semenjak mulai melemahnya kekalifahan di Turki Usmani, dan bangkitnya Renaisance di Perancis maka semakin bertambah Ilmu pengetahuan negara-negara barat hingga terjadinya revolusi Industri di Inggris, maka mulai bebaslah negara-negara barat melakukan penjajahan ke wilayah-wilayah timur, hingga terjadi Perang Dunia II.

Ada dua kelompok Negara-negara yang bertikai pada masa itu yaitu kelompok Fasisme (blok sentral/blok poros) yang terdiri dari Jerman, Jepang dan Italia, dan blok Sekutu terdiri dari Inggris, Perancis, Belanda, Amerika, Unisoviet, dan Tiangkok, dan perang ini telah dibagi sesuai dengan kelompok dan wilayahnya.

Di Eropa Jerman bersama Italia (Blok Sentral) melawan negara-negara Eropa Blok Sekutu dan Jerman juga melakukan pemburuan dan pembantaian besar-besaran terhadap bangsa Yahudi sehingga bangsa Yahudi sangat membenci Jerman beserta anggotanya blok sentral.

Jepang (blok sentral) membebaskan wilayah-wilayah Asia yang dijajah oleh pihak Sekutu dengan mengusir Inggris dari China, Korea, Malaysia, Brunei dan Singapura, dan mengusir Perancis dari Laos, Kamboja, dan Vietnam, serta mengusir Belanda dari Indonesia. Pada masa perang dunia II ini, Jepang terlibat pertikaian dengan Amerika Serikat, Jepang melakukan serangan mendadak di Pearl Harbour Kep. Haway AS tanggal 7 Desember 1941, dengan kejadian ini AS menyatakan Perang melawan Jepang, sehingga terjadilah peperangan antara Jepang dan AS, perang ini disebut “Perang Asia Pasific/Asia Pasific War” antara AS (blok sekutu) dan Jepang (blok sentral). Untuk memenangkan perang ini, Jepang berhasil mengambil hati bangsa Asia termasuk Indonesia dengan mengusir Belanda dari Indonesia tahun 1942, setelah itu Jepang mulai kewalahan menghadapi tentara Sekutu dengan bergabungnya Unisoviet diketuai Rusia ke pihak Sekutu, ditambah lagi pihak Yahudi yang dendam terhadap Jerman dengan Blok sentralnya, maka pihak Yahudi mengumpulkan para Ilmuannyadan melakukan sebuah perjanjian dengan pihak Sekutu (seperti yang telah dirilis oleh Chaim Weizmann sebelumnya), bahwa Ilmuan Yahudi bersedia menciptakan Senjata dan Obat-obatan untuk pihak sekutu.Ilmuan Yahudi termasyur kala itu bernama Albert Einstein, ia berhasil menciptakan Bom Atom, yang mana bomatom inilah yang menghancurkan Kota Hiroshima tanggal 6 Agustus 1945 dan Nagasakinya Jepang pada tanggal 8 Agustus 1945 sehingga Jepang menyerah Tanpa Syarat kepada Pihak Sekutu, dan Indonesia memproklamirkan Kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945.

Berdasarkan bantuan pihak Yahudi terhadap negara-negara Sekutu yang berhasil memenangkan Perang Dunia II ini, maka orang-orang Yahudi mulai meminta tanah Palestina ke Inggris (waktu itu Palestina dibawah kekuasaan Inggris). Dengan rasa hutang budi inilah pihak sekutu Inggris merelakan Palestina diberikan ke pihak Yahudi hingga berhasil mendirikan Negara Israel  tahun 1948 hingga saat sekarang ini dan Palestina dalam jajahan mereka.

Kalau kita berandai-andai, jika Jepang (Blok Sentral) yang menang dalam Perang Dunia II ini, maka tentulah Indonesia yang mayoritas Islam masih dijajah oleh Jepang dan koleganya blok sentral(non-Muslim)hingga saat ini. Disisi lain, pihak Sekutu (non-Muslim) yang dibantu oleh Ilmuan Yahudi jika mengalami kekalahan, tentulah negara Israel tidak akan berdiri di tanah Palestina maka Palestinalah yang mendapatkan kemerdekaan, namun yang terjadi adalah sebaliknya, Pihak Jepanglah yang mengalami kekalahan dan Indonesia yang mendapatkan kemerdekaan, sedangkan Penjajahan baru terjadi di Palestina. ***

Komentar

News Feed