oleh

Pejuang HAM-Feminis Tersohor Mesir Tutup Usia, Yuk Kenali Sosok Nawal El Saadawi

Kabar duka menyelimuti dunia sastra. Nawal El Saadawi yang berasal dari mesir, seorang sastrawan yang dikenal dengan perjuangannya atas hak perempuan, beliau menghembuskan nafas terakhir di usia 89 tahun.

Kantor berita pemerintah Mesir, Al-Ahram, mengonfirmasi kabar duka ini melalui pemberitaan yang dirujuk CNN pada Minggu (21/3/2021).

Tak lama setelah kabar ini beredar, sejumlah rekan El Saadawi langsung mengucapkan belasungkawa melalui jejaring sosial, termasuk penulis asal Mesir, Mona Eltahawy.

Melalui kicauan di akun Twitter resminya, Eltahawy mengutip salah satu tulisan di buku karya El Saadawi, Woman at Point Zero.

“Mereka bilang, ‘Kalian perempuan kejam dan berbahaya.’ ‘Saya bicara kebenaran, dan kebenaran memang kejam dan berbahaya,’ Nawal El Saadawi, Woman at Point Zero. Feminis Mesir, Nawal El Saadawi, meninggal dunia. Selamat beristirahat, Nawal,” tulisnya.

Salah satu pengalaman masa kecil yang didokumentasikan El Saadawi dengan begitu jelas sehingga membuat pembacanya tidak nyaman adalah menjadi korban sunat perempuan atau female genital mutilation (FGM) pada usia enam tahun.

Dalam bukunya, The Hidden Face of Eve (terbit di Indonesia dengan judul ‘Perempuan dalam Budaya Patriarki’), dia menceritakan pengalamannya menjalani prosedur yang menyakitkan itu di lantai kamar mandi, sementara ibunya berdiri di sampingnya.

Dia berkampanye menentang sunat perempuan sepanjang hidupnya, dengan alasan bahwa praktik itu adalah alat yang digunakan untuk menindas perempuan.

El Saadawi lulus dengan gelar kedokteran dari Universitas Kairo pada tahun 1955 dan bekerja sebagai dokter, sebelum mengambil spesialisasi di bidang psikiatri.

Dia kemudian menjadi direktur kesehatan masyarakat untuk pemerintah Mesir, tetapi dia dipecat pada tahun 1972 setelah menerbitkan buku non-fiksi, Women and Sex (Perempuan dan Seks), yang mencela sunat perempuan dan penindasan seksual terhadap wanita.

Majalah Health, yang dia dirikan beberapa tahun sebelumnya, ditutup pada tahun 1973.

Namun dia tidak berhenti berbicara dan menulis. Pada tahun 1975, dia menerbitkan Woman at Point Zero (Perempuan di Titik Nol), sebuah novel berdasarkan kisah kehidupan nyata seorang perempuan terpidana mati yang dia temui.

El Saadawi kerap mengkritik kelompok feminis yang memisahkan antara kesetaraan perempuan dengan kapitalisme.

Buku itu menimbulkan kemarahan. Para pengkritik menuduh El Saadawi memperkuat stereotip perempuan Arab.

“Mereka tidak menyadari hubungan antara pembebasan perempuan di satu sisi dan ekonomi dan negara di sisi lain. Banyak yang menganggap hanya patriarki sebagai musuh mereka dan mengabaikan kapitalisme korporat,” kata Saadawi.

Di akhir kehidupannya, El Saadawi menghabiskan tahun-tahunnya di Kairo bersama dengan putra dan putrinya.

Selamat jalan pahlawan para perempuan dan terima kasih Nawal El Saadawi ! (*/cr2)

Komentar

News Feed