oleh

Dr. Andani Eka Putra, Serukan Lakukan Edukasi secara Masif ke Masyarakat soal Covid-19

Padang – Rendahnya kepedulian masyarakat dan paralel dengan sikap “mada” dalam mengikuti protokol kesehatan, upaya memutus mata rantai virus Corona, makin berat.

Jumlah penderita Covid-19 Sumbar yang sempat landai di bulan Juli, sekarang menanjak tajam lagi dalam periode Agustus. Sampai Jumat, 21 Agustus 2020, positif Covid-19, sudah terkonfirmasi 1.527 pasien, dengan penambahan dua hari terakhir 44, dan 43 orang yang berakibat provinsi Sumbar, makin membara dengan ledakan positif baru Covid-19 (info Jubir Tim Gugus Tugas Covid-19, Jasman-red).

“Aksi yang harus dilakukan sekarang oleh semua lini,” kata Dr. dr. Andani Eka Putra, “mengedukasi masyarakat secara masif tentang Covid-19.”

Kepala Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi, Fakultas Kedokteran Univeritas Andalas, Padang, itu menjelaskan, edukasi kepada warga dari tingkat atas sampai ke nagari dan jorong harus dilakukan penyadaran ke masyarakat, sebagaimana siaran pers yang diterima, Jumat (21/8/2020) dari Komisi Informasi Sumbar.

“Tapi yang paling penting tokoh masyarakat dan aparatur pemerintah harus paham tentang covid 19 ini,” jelas dr Andani yang didaulat sebagai pembicara utama diskusi virtual Mencari Formula Menekan Penyebaran Covid-19 di Sumbar.

Dikusi digelar tiga lembaga negara di Sumbar, Ombudsman, Komisi Informasi dan Komnas HAM, dengan membentuk Cluster Pengawasan Penanganan Covid-19 (CPPC) Sumbar. Ketiga lembaga memandang kondisi Covid 19 makin menjadi ancaman nyata. Sumbar akan menjadi zona merah penyebaran Covid-19, sebab positivity rate Sumbar mengalami tren kenaikan.

dr Andani juga menegaskan dalam memutus penyebaran harus dilakukan 5P yaitu pendidikan, pelacakan, pemeriksaan, pengobatan dan pengkarantinaan.

Sementara plt Bupati Solok Selatan, Abdul Rahman, mengaku sudah melakukan upaya edukasi, namun banyak kendala yang dihadapi di tengah masyarakat.

“Di kampung kampung, masyarakat terjebak dengan pemikiran yang salah tentang Covid 19 ini, seperti virus tidak menyerang petani tapi hanya pejabat, ini terjadi di lapangan. Di Solsel kita merekrut edukator untuk memberikan edukasi ke masyarakat,” terang Abdul Rahman.

DR Sari Lenggogeni yang hadir sebagai pembicara menekankan kepada lemahnya kepercayaan masyarakat, karena termakan informasi hoaks.

“Edukasi memang jadi jalan terbaik, saya sendiri mengalami bagaimana masyarakat tidak mau melakukan swab karena takut, mereka berpikir swab itu sakit, banyak informasi salah yang dipercaya oleh masyarakat,” tukas Riri, panggilan akrabnya.

Juru bicara gugus tugas penanganan covid 19 Sumbar, Jasman menambahkan tidak hanya masyarakat yang perlu diedukasi, bahkan kepala daerah di kabupaten kota juga perlu diberikan penyadaran.

“Zona hijau dianggap seperti penghargaan, akibatnya ada satu kepala daerah yang tidak mau mengirimkan sample ke Labor Unand, agar daerahnya dikategorikan hijau,” tukuk Jasman.

Diskusi yang dimoderatori oleh Adel Wahidi ini ditutup oleh Buya Masoed Abidin. Buya memberikan pemahaman tentang merdeka di tengah covid bukan berarti bebas.

“Merdeka itu patuh, taat dan disiplin. Secara positif, Covid-19 ini adalah anugerah karena mengajarkan kita untuk patuh dan disiplin, makanya Buya menghimbau ke masyarakat, ikutilah protokol kesahatan, Insya Allah kita bebas dari Covid 19,” nasehat Buya Mas’ud.
nasehat buya.

Diskusi yang berlangsung selama 3 jam tersebut menjadi catatan bagi CPPC 19 Sumbar.

“Akan ada banyak tugas selanjutnya bagi cluster pengawasan ini, kita akan menyusun langkah tindak lanjut untuk mengawasi, memberikan masukan, serta melakukan aksi nyata,” kata koordinator CPPC 19, Yefri Heriani diamini oleh Ketua Komisi Informasi Sumbar, Nofal Wiska dan Kepala Komnas HAM Sumbar, Sultanul Arifin. (M1/nof)

Komentar

News Feed