Solok, Siberindo
Gebrakan Rahmat Kusasi (28 tahun) mengembangkan tanaman stroberi di lereng perbukitan di Air Dingin, Kabupaten Solok, patut diacungkan jempol. Kenapa tidak, anak muda kelahiran 12 Januari 1993 ini berani melakukan terobosan menanam stroberi yang tak lazim dilakukan petani setempat. Petani di Air Dingin sudah terbiasa monoton dengan tanaman bawang merah.
Tidak mengherankan, tanaman stroberi yang dimulai di lahan seluas dua hektar di kampung halamannya, Jorong Koto Baru, Nagari Air Dingin, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok itu, menjadi sesuatu hal yang aneh pada awalnya. Malah ada pula yang meresponnya dengan nada miring. Namun anak kedua dari lima bersaudara dari pasangan Jamirus- Nurhasanah ini tak menghiraukannya.
Rahmat sangat optimis bahwa stroberi mampu memberikan nilai tambah dan penghasilannya akan lebih besar dari tanaman bawang merah. Apalagi pasarnya sangat menjanjikan dan tidak merusak tanah, karena tanaman berbuah warna merah ini seratus persen organik. “Sedikit pun tak ada pestisida. Murni organik,” jelas Rahmat seperti dikutip PilarbangsaNews, jaringan Siberindo.Co.
Cemoohan segelintir petani itu juga merupakan tantangan bagi Rahmat. Itulah sebabnya, Rahmat melakukan tanaman uji coba ini dengan bersungguh-sungguh, merawat hingga berbuah, supaya jadi contoh bagi petani lainnya.
“Olah bibit sendiri, pola tanam dan pemeliharaannya dilakukan serius. Alhamdulillah, kini saya telah membuktikannya dengan menghasilkan 600 kilogram stroberi super per bulan di lahan dua hekrar. Harga jual Rp50.000 setiap kilogram. Pemasarannya tak ada masalah, saya sudah menjajaki pemasarannya di berbagai super market dan toko buah di Padang, sambutannya sangat menggembirakan,” kata alumni Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah, Kalimantan Timur ini.
Kebun stroberi ini terletak di daerah berhawa sejuk Jorong Koto Baru, sekitar tiga kilometer dari jalan raya Alahan Panjang- Muara Labuh, dengan tanjakan berliku, jalan bebatuan dan rawan longsor.
Keberhasilan kebun stroberi Rahmat menjadi perhatian segenap petani di Koto Baru. Tak sedikit pula yang ingin mengikuti jejak Rahmat. Bak gayung bersambut, keinginan petani itu disambut baik oleh Rahmat. “Kami dengan senang hati memberikan bimbingan,” ujar Rahmat, yang juga Ketua Kelompok Tani Sarasah Indah Saiyo ini.
Kelompok tani ini mengembangkan tanaman stroberi, alpukat, labu siam, kacang karo, kesemek dan bawang merah. Rahmat sangat setuju dengan anjuran pengamat koperasi Rusdi Bais (58 tahun) yang menganjurkan kelompok tani tersebut menyatu dalam wadah koperasi.
“Saya setuju sekali. Dalam waktu dekat ini, saya akan mengundang Pak Mulyadi, Kasi Koperasi Dinas Koperasi dan Perindag Kabupaten Solok untuk melakukan sosialisasi. Kami satukan persepsi terlebih dahulu agar pembentukan koperasi nanti benar-benar mendapat perhatian penuh dari semua anggota,” ucap anak muda bertubuh kekar, berambut keriting ini.
Kata Rahmat, koperasi diharapkan dapat membantu keuangan petani yang sebagian besar kini terjerat praktek rentenir. “Harapan kami, penghasilan petani dapat meningkat, terbebas dari lilitan tengkulak yg sudah lama mendera petani di sini,” harapnya. (PB)











Komentar