oleh

Pembelajaran Untuk Kaum Milenial Tentang Legenda Malin Kundang

Oleh: Santika Ramadhani

Legenda Batu Malin Kundang yang terletak di Pantai Air, Kota Padang sangatlah tak asing di telinga masyarakat Sumatra Barat maupun luar Sumbar. Legenda Batu Malin Kundang yaitu menceritakan sesosok anak muda yang durhaka kepada ibunya.

Malin kecil hidup berdua dengan ibunya hingga dewasa. Dikarena kehidupan di kampung sangat tidak memadai untuk keberlangsungan kehidupannya, malin memilih untuk merantau kepulau jawa.

Malin Kundang terkenal dahulunya sebagai anak yang berbakti dan taat kepada ibunya. Hal ini ditunjukkan dengan sikapnya yang rajin membantu sang ibu dalam bekerja. Bekerja keras dengan penuh semangat.

Pada saat kanak-kanak hingga usianya beranjak dewasa, Malin Kundang dikenal sebagai anak yang jujur dan sangat disenangi oleh masyarakat sekitar. Sikapnya yang jujur dan suka membantu orang tuanya dalam bekerja.

Tuntutan ekonomi yang semakin besar membuat Malin dewasa berfikir, bagaimana cara untuk memperbaiki perekonomian keluarganya. Ia memilih untuk pergi merantau, sang ibu pun mengizinkannya.

Malin memilih meninggalkan pulau Sumatera untuk merantau ke pulau Jawa. Singkat ceritanya setibanya Malin di pulau Jawa ia bertemu dengan seorang gadis cantik dan kaya. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.

Pada suatu hari Malin teringat kampung halamannya. Ia mengajak istri tercinta untuk berlayar ke pulau Sumatera. Sesampainya di pulau Sumatra lebih tepatnya di Padang, Sumatera Barat. Kabar kepulangan Malin tersebar dengan begitu cepat hingga didengar oleh sang ibu.

Ibunya yang begitu bahagia mendengar kabar tersebut langsung menuju ketempat kapal Malin berlabuh. Saat melihat sang ibu yang lusuh, miskin dan tidak terurus berbeda dengan ia yang sudah kaya dan mempunyai segala hal.

Ia merasa malu dan tidak mau mengakui keberadaan ibunya. Orang tua yang lusuh tersebut ia katakan bukanlah ibunya. Hingga sang ibu merasa marah dan sakit hati sampai terlontar kutukan kepada anaknya. Jadilah anaknya menjadi batu, yang dikenal sekarang ini sebagai legenda Batu Malin Kundang terletak di Pantai Air Manis, Kota Padang.

Baca Juga  Catatan Busyra Azheri; Putusan DKPP RI Nomor  86 Tahun 2020 Sudah Tepat

Dari cerita singkat Malin Kundang di atas dapat kita petik pelajaran bahwa kita sebagai kaum muda atau yang istilah gaulnya anak Milenial. Anak milenial yang saat ini hanya terfokus dengan segala sesuatu yang instan. Kemudahan yang sudah didapatkan membuat pergeseran nilai moral dilingkungan hidup. Bagaimana caranya bersikap kepada teman dan juga orang tua.

Sikap yang harusnya menghormati dan menghargai orang tua malah keterbalikan yang sering terjadi. Sering membantah dan melawan apabila dinasehati. Karena kecanggihan yang ada, membuat nilai moral itu berkurang. Salah satunya hanphone yang bisa video call. Jadi bagi mereka yang jauh tidak perlu lagi pulang untuk bertemu orang tuanya dikampung.

Tanpa disadari ada beberapa hal tersirat yang disampaikan dalam cerita itu. Pertama, sejak kecil Malin di didik menjadi anak yang mandiri, kerja keras dan memiliki semangat kerja yang tinggi. Karena ia hidup dan dibesarkan dalam keluarga kurang mampu. Mau tidak mau ialah yang bekerja keras. Dimasa sekarang yaitu Era Milineal kita sebagai generasi muda bisa mencontoh sikap kerja keras dan semangat kerja Malin kundang.

Apalagi saat sekarang ini, mencari kerja sangat sudah dimasa pandemi. Dari cerita tersebut bisa kita terapkan dalam kehidupan saat ini. Kedua, yaitu merantau. Masyarakat Minangkabau idientik dengan marantaunya. Dahulu yang merantau hanya laki laki. Tetapi saat ini perempuan pun sudah ada yang merantau. Baik untuk pendidikan maupun ekonomi.

Baca Juga  Kuburan Keramat ! Meninggi Sendirinya di Sungai Asam, Padang Pariaman

Kesetaraan sudah terlihat saat ini. Dengan merantau kita bisa merubah dan memperbaiki kehidupan. Apabila dikampung halaman kehidupan susah diharapkan dengan pergi merantau bisa membuat kehidupan membaik dan mengangkat derajat orangtua dikampung.

Ketiga, dari sisi agama atau religi. Minangkabau khususnya Sumatra barat adalah daerah yang mayoritas beragama Islam. Didalam Islam menyakiti hati orang tua adalah perbuatan yang salah dan dilarang di agama. Jangankan melawan dan menyakiti hatinya, berucap ah, ciih saja sudah mendapatkan dosa.

Terdapat Alquran surat Al isra 23-24 yang artinya. Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.

Di Legenda Malin Kundang itu secara tidak langsung mengajarkan kita agar tidak durhaka dan menyakiti hati orang tua. Hendaklah berkata dengan lemah lembut dan selalu menjaga perasaannya agar tidak terluka dan tersakiti. Menjaga lisan dan perbuatan agar selalu membuat orang tua bahagia.

Didalam agama juga menyebutkan bahwa surga ada di telapak kaki ibu, yang berarti betapa tingginya kedudukan ibu. Maka tidaklah seharusnya kita menyinggung dan menyakiti hatinya bahkan sampai membuat ia mengeluarkan air mata karena ulah kita sendiri.

Selanjutnya didalam cerita Malin Kundang itu ibu Malin mendidiknya dengan cara yang baik, bekerja keras agar dapat menjadi anak yang membanggakan. Di Era sekarang ini setiap mendengar legenda Malin Kundang masyarakat pasti akan mengingat anak yang durhaka. Ini sering kali dipakai oleh orang tua pada masa kini untuk menakuti anaknya apabila sudah melawan dan tidak menuruti apa yang dinasehati orang tua.

Baca Juga  ANGGOTA DPR RI ATHARI GAUTHI ARDI JANJI GAET DAN GULIRKAN DANA APBN KE SUMBAR

Apabila dirasa anaknya sudah mulai durhaka dan tidak mengerti apa yang dinasehati pasti orangtua pada zaman ini akan langsung mengatakan, jangan melawan orang tua nanti menjadi anak yang durhaka. Mau jadi anak yang durhaka dan nanti dikutuk menjadi batu. Pasti anak anak akan menjadi takut dan tidak mau melawan agar tidak dikutuk menjadi batu oleh ibunya.

Berarti secara tidak langsung Legenda Malin Kundang ini dapat menjadi sarana pendidikan dimasa milenial saat ini. Agar tidak sama seperti Malin Kundang yang anak durhaka kepada orang tua ia tidak akan melawan kepada orang tua khususnya ibu.

Ternyata dalam Legenda Malin Kundang tidak hanya tentang anak durhaka kepada orang tua. Tetapi banyak hal tersirat yang ingin disampaikan penulis kepada kita. Apalagi di Era Milenial ini. Kita sebagai generasi muda harusnya selalu bersikap positif dan mengambil hal positif dari segala bidang.

Bisa dalam bidang moral, etika ,pendidikan, agama bahkan dalam segi ekonomi. Maka kita sebagai generasi muda Era Milenial hendaknya meimplementasikan hal yang secara tidak langsung disampaikan penulis dalam kehidupan sehari hari.

Mencontohkan hal hal baik kepada sesama dan memberikan pengaruh yang baik kepada sekitar. Orang luar saja tertarik dengan Legenda Malin Kundang ini. Berarti ada banyak hal tersirat yang kaya akan makna yang bisa digali disana. Melestarikan lagi sastra lisan yang ada didaerah kita sendiri. (*/cr2)

Sumber: minangkabaunews.com

Komentar

News Feed