oleh

Membantu dan Memahami Anak Dalam Menguasai Kemarahannya

Oleh: Fisa Amanah, M.Psi (Dosen IAI Sumbar)

Emosi adalah sebuah istilah yang sudah populer, namun secara tepat masih membingungkan, baik di kalangan ahli psikologi maupun ahli filsafat. Makna emosi banyak dikaji oleh para psikolog dan banyak mendapatkan tempat dari pengkajian mereka, karena dianggap sebagai kajian yang penting dan menarik dalam kehidupan manusia. Emosi juga dapat di artikan sebagai perasaan atau afeksi yang melibatkan kombinasi antara gejolak fisiologis.

Meninjau dari segi perkembangan anak, emosi yang dikeluarkan anak disaat tumbuh kembang akan mengikuti perkembangan usia kronologisnya. Artinya bahwa, perkembangan emosi pada anak selalu mengikuti dan berkembang sesuai dengan perkembangan dan pertambahan usianya. Perkembangan emosi pada anak bayi akan terus berkembang hingga anak menjadi remaja, dan terus berkembang menjadi dewasa.

Baca Juga  PWI Sayang, PWI Malang: Catatan Zulnadi

Berikut cara menguasai dan memahami emosi anak:

  1. Kemarahan pertama

Kemarahan pertama seorang bayi yang datang secara mengejutkan bagi orangtua baru. Kemarahan bayi ditandai dengan tangisan, yang disebabkan karena kebutuhan seperti lapar, sakit, bosan, lelah dan siap merespons dengan seperti ini bayi mengisyaratkan emosinya.

  1. Datangnya perasaan marah

Kemarahan sering timbul ketika kelangsungan hidup atau kenyamanan seolah-olah terancam

  1. Penonjolan diri

Penonjolan diri juga disebut dengan agresi yang dimana seseorang melindungi diri, mendapatkan apa yang dibutuhkan seseorang, dan menyadari potensi seseorang, tanpa menyakiti siapa pun.

  1. Mengidentifikasi dan menamai kemarahan

Anak-anak mengalami gangguan, kejelekan, frustasi, dan kemarahan, bersama dengan sensasi fisik yang mereka rasakan, sebelum mereka dapat menamai perasaan-perasaan itu. Bahkan ketika sudah mengenalnya pun, anak-anak umumnya terlalu sibuk dengan aktivitasnya untuk memonitor perasaan mereka sendiri.

  1. Mengatasi kemarahan
Baca Juga  Menjaga Hati: Jalan Menuju Ketenangan dan Kebahagiaan Hakiki

Ketika seorang anak tahu bahwa ia sedang marah, ia memiliki kesempatan untuk menunjukkannya pada orang lain. Anak dapat mengendalikan kemarahannya dengan caranya sendiri. Ia harus belajar untuk menenangkan intensitas dan kesulitan fisik yang muncul bersamaan dengan perasaan marah, sehingga ia siap untuk tugas selanjutnya, yaitu memahami sumber kemarahan, dan menyatakannya, jika ada mungkin ia dapat menyebutkan penyebabnya.

  1. Perangai dan perbedaan individual

Temperamen individual seseorang anak dapat dipahami dan diperhitungkan begitu para orangtua mempertimbangkan cara untuk membantu anak belajar menenangkan dirinya sendiri, mengidentifikasi, menamai, dan mengekspresikan perasaannya, dan memikirkan solusi untuk menyelesaikan masalah yang telah memicunya.

  1. Mimpi buruk dari masa kanak-kanak
Baca Juga  Yuk, Tunaikan Takbir Mutlaq dan Takbir Muqoyyad di Bulan Dzulhijjah

Orangtua mungkin juga khawatir bahwa agresi seorang anak adalah tanda bahwa ia akan mengikuti jejak keluarga dewasa yang kasar.

  1. Dari satu budaya ke budaya lain: mengekspresikan kemarahan ekspektasi dalam mengatasi emosi seperti kemarahan berbeda dari satu keluarga ke keluarga lain, dari satu budaya ke budaya lain.
  2. Titik balik dari belajar mengatasi kemarahan

Kemampuan seorang anak untuk mengendalikan dirinya sendiri sering keluar dari jalur oleh usahanya untuk menguasai langkah baru dalam area perkembangan lainnya.

  1. Tantangan untuk mengendalikan diri

Dari masalah yang lebih serius yang membutuhkan perhatian profesional. Orangtua bertugas membantu anak-anak belajar bagaimana mengatasi perasaan marah dan agresi.***

News Feed