Koto Malintang, siberindo.co — Kematian massal ikan keramba jaring apung (KJA) di Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam kembali terjadi di awal tahun 2022. Kondisi itu mulai menimbulkan pencemaran udara di lingkungan sekitar.
Pantauan KABA12.com, Senin (14/2), bau menyengat dari bangkai ikan mulai tercium di jalan raya Lubukbasung-Bukittinggi tepatnya di Nagari Koto Malintang dan Nagari Duo Koto.
Warga sekitar juga mengeluhkan bau busuk dari ribuan bangkai ikan yang dibuang oleh petani KJA. Mereka mengkhawatirkan kondisi ini menambah beban pencemaran di Danau Maninjau.
Nofri (33), salah seorang warga mengatakan, bau bangkai ikan itu mulai tercium pasca kematian ikan massal pada Jum’at dan Sabtu (11-12/2) kemarin.

“Sudah tiga hari bau busuk mulai tercium disini. Apalagi, baunya semakin menyengat pada sore dan malam hari, akibatnya aktivitas saya jadi terganggu,” ujarnya kepada wartawan, Senin.
Sementara itu, para pengendara yang melintas di jalan raya juga mencium aroma busuk yang berasal dari ribuan bangkai ikan tersebut.
Salah seorang pengendara, Rudi mengaku, dirinya sangat terganggu dengan bau menyengat dari bangkai ikan itu. Bahkan, ia mesti menutup hidung ketika melewati jalan raya di Nagari Koto Malintang.
“Iya, baunya sangat busuk, bikin pusing dan mual. Saya harus tutup hidung kalau lewat disini,” ungkapnya.
Ia berharap, pemerintah daerah dapat segera mengatasi persoalan kematian ikan budidaya keramba yang terjadi di Danau Maninjau.
“Harapannya pemerintah bisa cepat menangani kondisi ini. Misalnya dengan cara gotong royong mengubur bangkai ikan di darat,” katanya.

Camat Tanjung Raya Handria Asmi mengatakan, kematian ikan KJA secara massal terjadi di dua lokasi yakni Nagari Koto Malintang dan Nagari Duo Koto. Peristiwa ini mulai terjadi sejak Jum’at dan Sabtu (11-12/2) kemarin.
“Lokasi terparah yang mengalami kematian ikan kali ini terjadi di Nagari Koto Malintang,” ujarnya.
Pihaknya belum dapat memastikan berapa jumlah dan kerugian akibat peristiwa kematian ikan tersebut.
“Total kerugian dan jumlah kematian ikan belum bisa dipastikan, karena kita masih menunggu informasi dari penyuluh perikanan,” sebutnya.
Menurutnya, salah satu faktor penyebab kematian ikan secara mendadak akibat berkurangnya kadar oksigen di dalam danau. Kondisi itu disebabkan oleh pengaruh cuaca ekstrim, sehingga membuat endapan sedimen sisa pakan ikan dan zat beracun lainnya naik ke permukaan.
“Kurangnya kadar oksigen di dalam danau biasa disebut dengan istilah fenomena upweeling atau pembalikan massa air. Sebelum mati, ikan-ikan itu akan mengalami pusing dan mengawang ke permukaan danau,” katanya.
Selain itu, fenomena kematian ikan massal disinyalir akibat kondisi air danau yang tercemar dan dampak dari tubo belerang.
Kematian ikan budidaya KJA di Danau Maninjau ini merupakan yang pertama kali terjadi di tahun 2022.
(Bryan/kaba12.com)










