oleh

Sulaman Pesona Minang Bukittinggi, Lewati Pandemi Covid-19 dengan Optimisme

SUMBAR, Siberindo – Pandemi Covid-19 melemahkan sendi-sendi ekonomi masyarakat kota wisata Bukittinggi. Wisatawan sepi, pedagang suvenir dan sulaman khas Minang banyak yang terpaksa tiarap. Tokonya tutup. Tapi di sepanjang bibir ngarai Sianok Kota Bukittinggi, ada toko sulaman yang tetap buka, Toko Sulaman Pesona Minang. Melongok kondisi toko ini, tak terlihat ada pembeli.

Sejak wabah virus corona menyerang, romansa keramaian turis-turis yang berbelanja di tempat wisata ini jadi sebatas obrolan penikmat minum kopi. “Terhitung sejak Maret 2020, pedagang di Taman Panorama nyaris tak ada yang pacah talua (transaksi), ucap Irvan Bandaro Kayo, pemilik toko sulaman khas Minang ini.

Bandaro Kayo meneguk kopinya di udara dingin kota Bukittinggi, tempat proklamator Bung Hatta, dibesarkan itu, sambil menatap langit dengan wajah datar, berucap, “sudah lama saya berjualan di sini, tapi beberapa tahun terakhir ini terasa sulit sekali,” desisnya dengan senyum pahit. Namun tiba-tiba senyumnya mulai mengembang. Irvan Bandaro Kayo (47 tahun) ingat masa-masa bulan madunya berjualan sulaman dan suvenir di kawasan Taman Panorama.

“2008 sampai 2013 itu adalah masa jaya-jayanya pedagang berjualan di Taman Panorama ini. Termasuk toko Pesona Minang yang saya kelola ini. Saat itu terasa betul nikmatnya berjualan di sini,” jelas Bandaro Kayo sambil sesekali meneguk kopi hitam, minuman favorit umumnya lelaki di tanah Minang.

Bagi Bandaro Kayo, berdagang adalah pilihan yang masuk akal baginya semenjak memutuskan “resign” dari pekerjaan semula sebagai staf di salah satu perguruan tinggi swasta di Bukittinggi. “Saya melihat peluang awal 2000, dimana Kota Bukittinggi sedang hangat-hangatnya pengembangan wisata. Jumlah wisatawan meningkat setiap tahun, sayang kalau momen ini tidak saya manfaatkan,” paparnya yang sehari-hari juga aktif ikut pengajian di masjid lingkungannya.

Baca Juga  Baznas Distribusikan Zakat 125 Garin Masjid di Bukittinggi

Layaknya usaha dagang kebanyakan, toko Pesona Minang sempat mengalami penurunan penjualan. Memasuki awal 2014, Bandaro Kayo mulai kesulitan mengejar target penjualan. Meningkatkan variasi produk yang berdaya saing adalah sebuah keharusan. Intinya, saat itu usahanya membutuhkan pembiayaan dana dari pihak ketiga alias permodalan.

“Saya mulai mencari solusinya dengan mengajukan permohonan pembiayaan kepada beberapa bank. Bank menyanggupi dengan syarat saya harus melampirkan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP). Nah, disini ganjalannya. Posisi toko saya yang berada di bibir ngarai membuat saya kesulitan memperoleh SIUP. Alhasil, usaha untuk mendapatkan pembiayaan dari Bank gagal total,” ulas Bandaro Kayo kepada Minangsatu, Selasa (25/9/2020).

Namun bukan Bandaro Kayo namanya kalau gampang patah arang. Ia ingat punya beberapa kenalan di Dinas Koperindag Kota Bukittinggi. Bandaro mengadukan perihal kesulitannya menjalankan usaha sovenir dan kain sulaman khas Minang tersebut. Dari Dinas Koperindag Bandaro Kayo bersama sembilan UMKM lainnya dibantu menyusun proposal binaan untuk diajukan kepada PT. Semen Padang. Pabrik semen tertua di Indonesia itu memang sudah dikenal sejak lama memiliki usaha-usaha kecil binaannya.

“Alhamdulillah, kami diundang PT. Semen Padang untuk menerima sosialisasi pembinaan UMKM. Dan alhamdulillah lagi, delapan dari sepuluh proposal yang masuk di-acc (disetujui) oleh PT. Semen Padang, salah satunya proposal Toko Pesona Minang,” bebernya bersemangat.

Baca Juga  Pemko Bukittinggi Segera Pulihkan Sarana Prasarana Pasar Bawah Yang Terbakar

Bak gerimis di musim kemarau, program binaan dari PT. Semen Padang sungguh menjadi obat bagi Toko Pesona Minang. Sebagai perusahaan BUMN, PT. Semen Padang lebih realistis dalam memandang peluang usaha dari UMKM.

“Toko Pesona Minang memenuhi unsur-unsur yang disyaratkan oleh PT. Semen Padang. Alhamdulillah, 2014 adalah awal mula kerjasama dibangun dengan perusahaan yang berlokasi di Indarung, kota Padang ini. Setelah itu penjualan saya kembali “on the track,” ujar Bapak tiga anak ini..

Hingga 2020, Kayo panggilan akrab Bandaro Kayo berhasil meyakinkan PT. Semen Padang untuk selalu menjadi pendamping usaha Pesona Minang. “Kita dibantu satu kali dua tahun. Alhamdulillah, semenjak 2014 hingga sekarang 2020, PT. Semen Padang tetap memercayai Toko Pesona Minang dan yang luar biasa platform kita terus di-“up” oleh PT. Semen Padang. Suatu kepercayaan yang sangat berkah tentunya,” kupasnya.

Sama halnya dengan usaha-usaha lain, kemunculan Wabah Covid 19 sangat menggoyahkan roda perekonomian Toko Pesona Minang. “Ini seperti tamparan yang nyata bagi kami. Jangankan orang berbelanja, satupun turis nyaris tak ada meskipun hanya sekedar untuk melihat-lihat,” papar Kayo.

Ditambahkan Kayo, posisi barisan pertokoan suvenir yang berada di pintu keluar objek wisata Panorama Lobang Jepang, dianggap merugikan pemilik usaha. “Riskan memang. Kami dari pihak pedagang sudah minta solusi ke Pemko, namun hingga saat ini belum ada tanggapan. Posisi toko kami yang berada dekat pintu keluar, ini akan sangat mempengaruhi daya beli pengunjung. Terlebih posisi toko pun berjarak cukup jauh dengan pintu keluar, artinya kecil kemungkinan pengunjung akan memutar arah ke toko kami,” katanya.

Baca Juga  Rabu 5 Mei, Kasus Positif Covid-19 di Bukittinggi Bertambah 17

Satu-satunya hal yang dilakukan Kayo saat ini adalah menjalin komunikasi dengan pelanggan. Berbekal kontak lewat whatsapp (media social), langganan banyak yang memesan barang kepada Toko Pesona Minang. “Itulah hikmahnya. Jika kita menjalin komunikasi yang baik dengan pelanggan, sampai kapan pun mereka akan ingat kita. Karena di sini selain kekhasan produk, keramah-tamahanlah yang menjadi  kunci kesetiaan pelanggan kepada kita,” jelasnya.

Alhasil, selama wabah Covid 19 Berlangsung, Kayo masih bisa melakukan transaksi dengan pelanggan meskipun secara online. “Yah, kami mengirimkan barang sesuai rekomendasi pelanggan. Nanti dari sanalah kita memperoleh pemasukkannya. Yang terpenting, Sulaman kita ini Etnik dan hanya ada satu di Bukittinggi. Tambah lagi, Kita dengan pelanggan sudah saling percaya. Itulah modal utama kita bertahan,” ujar Kayo.

Sebelum tegukan kopi yang terakhirnya, Irfan Bandaro Kayo menitip terimakasih dan harapan kepada PT. Semen Padang. “Terimakasih saya aturkan untuk segenap jajaran PT. Semen Padang. Alhamdulillah hingga saat ini kami bisa bertahan berkat binaan PT. Semen Padang. Semoga wabah ini cepat berlalu, sehingga kita bersama bisa menyusun rencana strategis pengembangan usaha ke depan,” pungkas Bandaro Kayo, penuh harap.

Komentar

News Feed