Sitinjausumbar.com – Pandemi Covid-19 menjadi masalah besar di seluruh belahan dunia yang terjadi mulai dari akhir tahun kemarin. Tenaga kesehatan menjadi garda terdepan dalam penangganan kasus Covid-19. Mereka berjuang melayani pasien yang terpapar Covid-19.
Salah seorang tenaga kesehatan di Kabupaten Padang Pariaman yang melayani dan menginformasikan pasien terpapar Covid-19 di Padang Pariaman adalah Jubir Covid-19 Padang Pariaman Dr. Jasneli, M.Mars. Berikut ini kisah Jasneli dalam penangganan pasien terpapar Covid-19 di Padang Pariaman.
Dalam mengatasi masalah ini, pemerintah tak bisa bekerja sendiri dan harus bekerja sama dengan berbagai kalangan masyarakat. Petugas medis menjadi garda terdepan untuk menghadapi Covid-19 ini, semakin banyaknya kasus dan pasien yang terinfeksi Covid-19, semakin berat juga perjuangan para pahlawan medis ini.
“Hasil kasus pasien Covid-19 pertama di Kabupaten Padang Pariaman diterima 26 Maret 2020. Saat inilah dimulainya perjuangan juru bicara Covid-19 Kabupaten Padang Pariaman dr. Jasneli, MARS bekerjasama dengan seluruh tim kesehatan langsung bertindak untuk penanganan pasien Covid-19 di Kabupaten Padang Pariaman,” tutur Jasneli, Minggu (9/8/2020).
“Kasus terkonfirmasi pertama di Kabupaten Padang Pariaman pada 26 Maret 2020. Pada hari itu juga bersama dengan seluruh tim kami langsung menuju rumah pasien dan melakukan tracing dan langsung melakukan isolasi terhadap pasien serta melakukan tracing pada daerah sekitar rumah pasien,” terang ASN yang diangkat tahun 2006 ini.
Pada saat diwawancarai Buk Je sapaan akrabnya ini mengatakan selama perkembangan kasus Covid-19 di Kabupaten Padang Pariaman. Ia bersama tim kesehatan lainnya telah melakukan swab terhadap 3.650 masyarakat di Kabupaten Padang Pariaman termasuk tracing atau pelacakan kasus.
“Salah satu upaya untuk mengetahui berapa persentase perkembangan kasus Covid-19 di Kabupaten Padang Pariaman sesuai dengan arahan Kepala Labor Unand dr. Andani maka kita melakukan survei cepat,”sambung dokter alumni fakultas Kedoktran Universitas Andalas Padang ini.
Jasneli juga menyebutkan pada saat ditemukannya kasus, bermacam ragam penyelesaiannya karena harus dipastikan kesembuhan pasien dan benar-benar bebas dari infeksi Covid-19 yang dinamakan dengan konfersi dua kali negative, dan adapula pasien yang sembuh sebelum 14 hari dan yang paling lama enam puluh hari.
“Namanya pandemi kiat tidak mengetahui kapan datangnya sehingga dalam penanganan Covid-18 di Kabupaten Padang Pariaman kami bersama tim kesehatan lainnya menemukan beberapa tantangan diantaranya ketidaksiapan sumber daya manusia dan anggaran termasuk kesiapan untuk tempat karantina. Untungnya saja kita di Kabupaten Padang Pariaman diberikan dukukungan oleh Pemerintah Provinsi dalam penangana kasus Covid-19 di Kabupaten Padang Pariaman. Tidak hanya itu tantangan lain juga berasal dari masyarakat dimana sebagaian masyarakat tidak menerima hasil dari tes swab anaknya bahkan pernah dikatakan bahwasanya kami memfitanah keluarganya terhadap hasil tes tersebut. Setelah diberikan pengertian dan sosialisasi mereka paham terhadap kasus ini dan mau menyerahkan keluarganya untuk diisolasi,” tutur Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariman ini
Jasneli juga mengatakan untuk mempermudah penangan kasus Covid-19 ini sangat diperlukan dukungan dan komitmen lintas sektor, karena dalam permasalahan ini tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja, tidak hanya dari pemerintah saja komitmen masyarakat juga sangat penting serta kejujuran perjalanan juga diperlukan.
Sebagai garda terdepan dalam penangan Covid-19 di Kabupaten Padang Pariaman banyak hal yang dikorbankan oleh seorang Jasneli terutama pengorbanan waktu bersama keluarga.
“Selama menjalani tugas sebagai juru bicara Covid-19 di Kabupaten Padang Pariaman keluarga sangat mendukung dan tidak pernah mengeluh atas kesibukan yang dimiliki saat ini. Alhamdulillah keluarga di rumah tidak pernah menuntut dan selalu memberikan semangat dalam menjalankan pekerjaan ini, karena mereka juga mengerti dengan profesi Buk Je,” ujar ibu tiga orang anak ini dengan menitiskan air mata.
Semenjak hasil kasus pertama di Kabupaten Padang Pariaman diterima hingga dua bulan setelah itu Ia selalu siap selama 24 jam dalam bertugas baik itu secara langsung maupun via telfon hingga suatu ketika Jasneli merasa trauma dengan bunyi telfon takutnya ada penambahan kasus terpapar Covid-19 di Kabupaten Padang Pariaman.
“Untungnya Bu Je memiliki tim yang solid dan tangguh serta selalu siap setiap dibutuhkan tanpa kenal waktu, sehingga dalam penanganan prosesnya dapat berjalan lancar sesuai yang diinginkan,” kata perempuan kelahiran 16 Juli 1976 di Padang ini.
Hingga saat ini dr. Jasneli beserta tim masih tetap bekerja keras dalam untuk menyelesaikan kasus Covid-19 di Kabupaten Padang Pariaman.
Sebagai garda terdepan yang terus berupaya menyelesaikan kasus Covid-19 Kabupaten Padang Pariaman tanpa kenal lelah dan waktu ,meskipun harus mengorbankan keluarga. Jasneli tetap siap dan tetap bergerak demi kesembuhan masyarakat, demi keselamatan bersama serta tetap kuat dan tetap tegar untuk menjalanakan amanah yang telah diberikan. (rls/at)











Komentar