Oleh : Mustari, M.Pd (Guru MTsN 6 Padang Pariaman)
Shalawat berasal dari kata Shalat dan bentuk jama’nya menjadi shalawat yang berarti doa untuk mengingat Allah SWT secara terus-menerus. Pengertian shalawat menurut arti bahasa adalah doa, sedangkan menurut Isilah, shalawat adalah shalawat Allah kepada Rasulullah, berupa rahmat dan kemuliaan (rahmat ta’dhim). Shalawat dari malaikat kepada Nabi, berupa permohonan rahmat dan kemuliaan kepada Allah, Untuk Nabi Muhammad, sementara shalawat dari selain Nabi berupa permohonan rahmat dan ampunan. Shalawat orang-orang beriman (manusia dan jin) adalah permohonan rahmat dan kemuliaan kepada Allah untuk Nabi, seperti Allahumma salli ‘ala sayyidina Muhammad. Shalawat merupakan pujian atau kemuliaan kepada Nabi Muhammad SAW, yang siapa seperti halnya doa atau dzikir kepada Allah SWT. Shalawat, jika datangnya dari Allah kepada-Nya, bermakna rahmat dan keridhaan. Jika dari para malaikat, berarti permohonan ampun. Dan bila dari umatnya, bermakna sanjungan dan pengharapan, agar rahmat dan keridhaan Tuhan dikekalkan.
Dalil tentang shalawat ada dalam firman Allah SWT surah Al-Ahzab; 56 Artinya; ‘’Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. Betapa mulianya Nabi Muhammad SAW, bahkan Allah SWT dan para malaikanya juga bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat diatas menunjukkan betapa isimewa-nya Nabi Muhammad SAW, sehingga kita sebagai kaum beriman juga diwajibkan untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagai rasa syukur sebagai Nabi pencerah bagi seluruh manusia dan rahmat sebagian Alam.
Tak ada nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad SAW, yang dinyatakan sebagai perwujudan kasih sayang (rahmat) Allah SWT kepada umat manusia sejagad, bahkan bagi seisi alam semesta. Sebagai mana dalam firman Allah dalam Al-quran, Artinya:‘’Dan Tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam ‘’. (Q.S Al-Anbiya: 107 ). Dari ayat diatas, Memuji Nabi Muhammad bukanlah menganggap beliau sebagai Tuhan. Menyanjung Rasulullah adalah mengakui Muhammad SAW sebagai manusia pilihan.
Luas jangkuan dan cakupan pernyataan rahmat tersebut tidak dibatasi oleh lingkaran sejarah dan pergantian umat manusia di muka bumi, karena dalam pernyataan tersebut, Allah SWT tidak menyebut beliau sebagai rahmat bagi manusia di Semenanjung Arabia, di Barat, atau Timur, dan tidak pula menyebut beliau sebagai rahmat di benua Asia, Afrika, atau bagian bumi manapun juga. Beliau Nabi Muhammad SAW dinyatakan sebagai rahmat bagi alam semesta.
Shalawat kepada Nabi memiliki dua bentuk, yaitu shalawat ma’surat dan shalawat ghairu ma’surat. shalawat ma’surat adalah shalawat yang redaksinya langsung diajarkan oleh Nabi SAW, seperti shalawat yang dibaca dalam dalam tasyahud akhir dalam shalat. Sedangkan shalawat ghairu ma’surat adalah shalawat yang disusun oleh selain Nabi SAW, yakni para sahabat, tabi’in, auliya’, atau yang lainnya di kalangan umat Islam. Susunan shalawat ini mengepresikan permohonan, pujian, dan sanjungan yang disusun dalam bentuk syair.
Dengan pengertian diatas, shalawat dapat dibedakan dua hal; yang pertama, langsung dari Nabi Muhammad SAW, sendiri dan yang kedua dari dari buatan manusia, yang berupa syair, sastra, dan karya lainnya. Yang utamanya tak lain adalah sanjungan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai rasa wujud cinta dan syukur terhadap Allah SWT yang telah menciptakan Rasullullah SAW, sebagai makhluk pilihan dan penerang bagi dunia.
Kebanyakan dari masyarakat mengamalkan shalawat sesuai kepentingan dan tradisi yang dikehendakinya. Tradisi pembacaan al-madaih al nabawiyah , lebih dikenal dengan pembacaan shalawat. Bacaan-bacaan shalawat dan madaih yang dibaca masyarakat dipahami dengan bacaan ritual yang berbeda-beda. Hal tersebut terjadi dikarenakan adanya perbedaan tujuan atau maksud dari kegiatan pembacanya. Untuk hajat khitan, misalnya yang dibaca adalah barzanji dan diba’.
Sedangkan hajat yang dibaca tingkeban (tujuh bulanan) untuk memohon anak putra yang adalah barzanji, memohon anak putri yang dibaca adalah diba’, hajat Walimah tasmiyah yang dibaca adalah albarzanji, diba’, dan mawlid al-habshi, hajat permohonan kesembuhan yang di baca adalah shalawat burdah dan shalawat tibbiyah, hajat mantenan yang dibaca adalah diba’ , hajat pindahn rumah (menempati rumah baru) yang dibaca adalah shalawat burdah. Sedangkan acara ritus lingkaran hidup dan upacara kalenderikal bacaan shalawat yang dibaca adalah diba’ barzanji, burdah, mawlid al-habshi, dan sharaaf al-anam. Selain itu, terdapat juga jami’yah yang memang menjalankan tradisi shalawat dan madaih sebagai tradisi rutin, dengan mengkhususkan satu bacaan shalawat dan madaih saja, misalnya membaca shalawat nariyah, burdah, simt al-durar, diba’i , mawlid al-habshi atau juga membaca barzanji.
Dari uraian diatas, shalawat tak hanya bacaan wirid saja. Namun juga bisa sebagai doa-doa dalam ritual apapun dalam kehidupan. Sehingga dengan dibacakannya shalawat menjadi tradisi spiritual dalam diri dalam memenuhi hajat-hajat manusia. Dengan, bertawasul kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, merupakan salah satu cara kedekatan kepada Allah SWT. Keistimewaan dan keagungan Nabi Muhammad SAW Dari beberapa keistimewaan dan keaagungan Nabi Muhammad SAW, yang dikaruniakan Allah SWT.
Keistimewaan dan keagungan Rasullah SAW : Pertama, Rasulullah SAW adalah manusia pertama yang diciptakan Allah, yaitu ketika Nabi Adam AS masih dalam keadaan antara ruh dan jasadnya (dari hadits At-Tirmidzi). Kedua, Allah SWT elah menetapkan bahwa semua nabi sebelum beliau SAW, mulai dari Nabi Adam AS hingga Nabi Isa AS, terikat oleh janji bahwa mereka akan mengimani dan membela kebenaran beliau SAW. Hal itu ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, yang artinya, ‘’ Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari Nabi, ‘Sungguh apa saja yang Aku berikan kepada kalian berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada kalian, kalian niscaya akan mengimaninya dan membelanya’.’’
Ketiga, sisilah asal-usul beliau SAW, mulai dari Nabi Adam AS hingga Abdullah bin Abdul Muththalib, tidak seorangpun dari mereka yang pernah melakukan perbuatan keji dan tidak senonoh (dari hadits riwayat Al-Baihaqi dan lain-lain). Keempat, pada saat kelahiran beliau SAW, bundanya melihat cahaya-cahaya memancar menerangi istana- istana megah di Syam, (diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal). Keliima, pada saat beliau berjalan di terik matahari, gumpalan awan memayunginya (dari hadits riwayat Abu Na’im dan lain-lain). Keenam, pernah terjadi ketika beliau SAW, sedang berjalan dan hendak berteduh di bawah pohon-pohon itulah yang bergerak mendekati beliau SAW. ( dari hadits riwayat Al-Baihaqi). Ketujuh, ketika beliau SAW masih kanak-kanak di bawah asuhan ibu susuannya, Halimah As-Sa’diyah, pada saat sedang bermain-main, datanglah malaikat membelah dada beliau SAW dan mensucikan hatinya (dari hadits riwayat Muslim dan lain-lain).
Kedelapan, pada waktu beliau menerima wahyu pertama di Gua Hira, Malaikat Jibril As tiga kaki memeluk beliau (diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim). Kesembilan, Allah SWT menyebut anggota badan beliau SAW satu per satu. Allah berfirman, yang artinya, ‘’ Hatinya tidak mendustakan apa yang dilihatnya.’’_QS An-Najm: 11. ‘’Ar-Ruhul Amin (Malaikat Jibril) membawanya (wahyu Allah) turun kedalam hatimu.’’_QS. Asy-Syu’ara: 193. Kesepuluh, Allah SWT memberi nama kepada beliau SAW ‘’Muhammad’’, berasal dari akar kata’’hamida(memuji)’’, yang merupakan akar kata bagi salah satu sifat Allah SWT ‘’AlMahmud(Maha Terpuji)’’. Sebelum itu tidak ada orang yang bernama seperti nama beliau SAW (diriwayatkan oleh Muslim).
Kesebelas, beliau sering merasa lapar di malam hari karena tidak mempunyai makanan, namun pada keesokan harinya merasa kenyang. Allah jualah yang dengan kekuasaan ghaib-Nya memberi makan dan minum kepada beliau SAW hingga tidak lagi merasa lapar dan tidak pula haus (dari riwayat Muslim). Kedua belas, beliau dapat melihat apa yang berada dibelakang beliau demikian jelas seperti melihat sesuatu yang berada di depan beliau SAW (di riwayatkan oleh Muslim). Ketiga belas, di waktu malam gelap-gulita, beliau SAW dapat melihat sesuatu dengan jelas seperti di waktu siang (diriwayatkan oleh Al-Baihaqi ) Keempat belas, ludah beliau SAW dapat membuat air laut menjadi tawar (diriwayatkan oleh Imam Abu Na’im).
Kelima belas, suara beliau SAW dapat didengar oleh orang yang berada di tempat yang biasanya ia tidak dapat mendengar suara orang lain dari jarak sejauh itu. (diriwayatkan oleh Al-Bukhari). Keenam belas, beliau SAW tidur hanya dengan mata, sedangkan hati beliau tetap terjaga dan tidak tidur (diriwayatkan oleh Al-Bukhari). Ketujuh belas, beliau sama sekali tidak pernah menguap (diriwayatkan oleh Imam Abu Syaibah, Imam Al-Khathththanabi, dan lain-lain). Kedelapan belas, selama hidup, beliau SAW tidak pernah ihtilam (mimpi syahwat), sama halnya dengan para nabi dan rasul sebelumnya (diriwayatkan oleh Ath-Thabarani). Kesembilan belas, keringat beliau SAW tidak berbau (diriwayatkan oleh Imam Abu Na’im dan lain-lain).
Kedua puluh, bila berjalan di samping orang yang bertubuh tinggi, beliau SAW nampak lebih tinggi (diriwayatkan oleh Al-Baihaqi). Kedua puluh satu, Allah SWT dengan kekuasaan-Nya memperjalankan beliauSAW di malam hari (isra) dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjid Al-Aqsha di Palestina dengan berkendaraan Buraq. Kemudian Allah SWT menaikkan beliau SAW ke alam tertinggi (Sidratul Muntaha), yang tidak mungkin dicapai oleh makhluk Allah lainnya. Dalam dua perjalanan ghaib yang memakan waktu kurang dari semalam itu, Allah SWT memperlihatkan kepada beliau SAW beberapa tanda keagungan dan kebesaran kekuasaan-Nya. Dalam isra beliau nengimami para nabi dan rasul sebelumnya di dalam shalat berjama’ah, turut serta para malaikat dalam shalat tersebut. Dalam mi’raj beliau SAW ke alam tertinggi, Allah SWT memperlihatkan kepada beliau surga dan neraka, kemudian beliau langsung menerima kalam Ilahi yang memerintahkan shalat fardhu lima kali sehari-semalam kepada semua orang yang beriman (mengenai isra, lihat QS Al-Isra: 1; dan mengenai mi’raj beliau SAW, telah diriwayatkan oleh semua imam ahli hadits). Kedua puluh dua, Allah SWT menurunkan para malaikat untuk berperang membantu beliau dan kaum muslimin dalam perang Badar (lihat QS Ali Imran: 122-127).
Masih banyak lagi tanda dan kenyataan mengenai keagungan Nabi Muhammad SAW, seperti yang diungkapkan Al-Imam Abdilah Al –Bushiri dalam karya Qasidah Burdah-nya; ‘’ Semua orang tak mampu memahami hakikat Nabi SAW. Maka bagi orang yang dekat ataupun jauh , tak terlihat selain keagungan.’***










